Makna Usia 40 Bagiku

Buat saya, usia itu hanya sebatas angka penanda berapa lama sisa waktu saya di dunia. Hingga saya nggak pernah merasa penting untuk menjadikan hari ulang tahun sebagai sesuatu yang spesial. 

Namun, usia penting diingat ketika kita melihat ke belakang. Ini yang sering saya lakukan dan saya catat. Misalnya....

- Saya menikah di usia 25 tahun

- Saya terakhir melahirkan anak di usia 30 tahun

- Saya mengalami satu masalah kesehatan yang amat penting (kasusnya nggak bisa saya tuliskan di sini) di usia 35 tahun

- Saya baru kepikiran ingin sekolah spesialis di usia 40 tahun dan itu terlambat

- Di masa pandemi, tepatnya ketika usia saya sudah lewat 40, saya mulai membangun kembali mimpi-mimpi baru. Melepas beberapa impian yang sebelumnya saya daki

Bicara tentang mimpi, saya ingat banget, di usia 34-35 tahun itu, saya juga membangun sebuah mimpi baru. Saat itu, saya baru saja meninggalkan profesi dokter gigi saya karena harus pindah ke Australia. Karena keadaan, saya memang harus merancang sesuatu untuk mengisi hari saya. Dan saat itu saya excited sekali bisa rehat dari profesi dokter gigi yang sudah saya tekuni cukup lama. 

Saya ingin jadi penulis. Maka sejak saat itulah saya memulai kegiatan baru di dunia literasi. Bahkan saya mengambil kelas Creative Writing di Australian College untuk menandakan keseriusan saya. Hari-hari saya isi dengan membaca, pergi ke perpustakaan, menulis naskah dan blogging. 

Dari sanalah dunia saya sebagai blogger bermula. 

Kemudian, hadir juga impian-impian lain yang berawal dari banyak hobi-hobi baru saya. Saya suka journaling, handlettering, watercoloring, sketching dan sebagainya. Apalagi kemudian saya memasuki dunia baru bernama Homeschooling Mom, yang membuka lebih luas lagi dunia-dunia baru dan koneksi-koneksi baru. 

Namun, bukan Anne namanya kalau nggak lompat-lompat. 

Gara-gara pandemi, yang membuat kita nggak bisa kemana-mana, alih-alih mendaki lebih tinggi lagi impian tadi, saya malah stuck. Saya lelah dengan semua impian yang belum lagi sempat saya daki hingga setengahnya. Semua masih di dasar. 

Saya malah kembali ke dunia lama saya. Dari sini, kemudian muncul banyak sekali perenungan-perenungan tentang masa lalu, masa kini dan masa depan. 

Dan saya merasa, usia 40 mungkin menjadi satu titik penting saya untuk kembali membangun batu bata-batu bata masa depan. 

Aaah serius banget sih bahasanya.....

Di usia 40an ini, saya banyak mengingat masa lalu yang pernah saya jalani. Kenapa saya memilih ini, kenapa saya memilih itu. Kenapa saya nggak kesini, kenapa nggak ambil itu aja. 

Adakah penyesalan? 

Ya, ada. Saya sempat menyesal, kenapa nggak sekolah lagi ketika usia masih lebih muda. Kenapa nggak mencoba cari beasiswa. Kenapa nggak meniti karir lebih serius, malah lompat-lompat cari beragam hobi. 

Somehow, semua bukan untuk saya ratapi juga. Justru saya berusaha mengambil hikmah. Kenapa jalan hidup kita bisa berubah-ubah sedemikian rupa. Apakah ada nilai yang saya ambil dari sana? 

Sekali lagi, tulisan ini bukanlah tulisan inspiratif. Saya hanya ingin menumpahkan isi hati, jadi kalau endingnya gak jelas....ya memang begitulah yang sedang terjadi di kepala saya. 

Sesuatu yang nggak jelas.....:)

No comments

Please leave your comment so I know you were here. Thank you for reading.