Hikayat Mimpi




 “Bayinya laki-laki, sehat, Bu. Alhamdulillah, nangisnya juga kenceng.” Dokter kandungan yang membantu persalinan, sudah menyerahkan bayi saya ke perawat untuk dibersihkan, usai Inisiasi Menyusui Dini (IMD). “Lanjut ke perjuangan kedua ya Bu, kita ngeluarin plasentanya.”

Entahlah, semua perkataan dokter terdengar samar di telinga saya. Perasaan yang campur aduk antara bahagia, rasa sakit yang masih terasa dan kelelahan luar biasa. Sehingga membuat saya pasrah. Do anything you need to do, Doc.
Perut saya agak ditekan oleh perawat. Sakit. Lalu dokter berkata lagi, “Plasentanya rapuh, ibu harus saya currete.”

Entah apa lagi yang beliau katakan, pikiran saya masih menerawang. Bayi saya dimana? Lagi apa? Saya ingin lihat lagi. Anggota tubuhnya lengkap, kan? Saya belum mengecek secara detil tadi. Saya masih berpikir tentang bayi saya sampai sang perawat menghampiri dan memasang masker oksigen. Dalam hitungan detik, saya lupa segalanya.

Saya terbangun di sebuah lorong yang gelap. Sepi dan sempit. Namun saya bergerak melewati lorong itu. Entah menggunakan apa, yang pasti saya tidak sedang berjalan. Gerakan saya cepat, seperti sedang naik kereta luncur yang kasat mata. Saya lalui lorong-lorong yang panjang itu, berbelok ketika menemui persimpangan dan terus meluncur. Seakan tak ada akhir.

Di ujungnya, terhampar lapangan hijau yang amat luas. Dengan bunga warna-warni dan pelangi di sudutnya. Seperti lukisan pemandangan. Saya berdiri di sana. Namun tidak lama, karena saya kembali masuk ke lorong yang panjang, dengan warna gemerlap di kanan-kirinya. Sangat menyilaukan mata. Ada yang hijau terang, kuning, biru, oranye, lalu berakhir hitam. Gelap kembali menyelimuti.

Gerakan saya melambat dan berhenti di sebuah persimpangan. Ada dua jalan, ke kanan saya dan ke kiri. Sebuah suara memanggil, “Anne, sekarang kita sudah sampai di ujungnya. Silakan mau pilih jalan yang mana?” Suara tersebut terdengar asing, saya tidak bisa menggambarkannya apakah itu milik laki-laki atau perempuan. Dia mengatakan waktu saya tidak lama. Keputusan harus diambil. Namun saya bingung, ini jalan kemana? Apa konsekuensi pilihan saya nanti?

“Jalan ke kanan itu kemana? Dan yang kiri kemana?” tanya saya.
“Kalau kamu pilih yang kiri, artinya hidup kami berakhir di sini. Kalau pilih kanan, kamu masih boleh hidup dan merawat anakmu.”
Allah ya Rabb...saya diberi dua pilihan berat. Tapi selama boleh memilih, saya pasti tidak akan memilih mati. “Saya masih mau merawat anak yang baru saya lahirkan. Saya ingin hidup.”
“Kalau begitu silakan belok ke kanan.”
Entah apa yang saya lakukan saya tidak tahu. Saya tidak ingat apakah saya benar-benar belok kanan atau tidak. Yang pasti setelah jawaban itu, mata saya terbuka. Kepala saya sedang menoleh ke kanan, dengan tangan Mama yang sedang menggenggam tangan saya. Kalimat pertama yang saya tanyakan begitu membuka mata, “Ma, Anne masih hidup kan?”
***

Kisah ini bukan fiksi. Ketika saya menuliskannya dan membacanya kembali, saya seperti sedang membaca satu bab buku Harry Potter The Scocerer’s Stone. Yaitu pada bagian ketika Harry memakai sorting hat, topi yang membuat keputusan asrama mana yang akan dimasuki Harry. Pada umumnya, topi yang akan memutuskan. Namun pada kasus Harry, dia dibiarkan menentukan pilihannya. Sampai akhirnya Harry Potter bisa masuk ke Gryffindor, asrama yang dia impikan.

Begitu juga dalam kematian. Kita tidak diizinkan memilih, karena pasti tidak ada yang ingin mati. Entah nyata atau tidak, dalam dimensi pikiran saya, ketika saya tengah berada dalam kondisi teranestesi total, saya diberi mimpi aneh. Mimpi yang membuat saya terpana ketika terjaga. Apakah ini hanya imajinasi saya, yang sering membayangkan kematian di akhir-akhir masa kehamilan. Yang takut dengan masih minimnya amalan, apabila Allah menakdirkan saya berpulang saat melahirkan.

Wallahu’alam. Semua masih misteri hingga saat ini, lima belas tahun kemudian.
Tepat ketika saya terjaga, saya merasa langsung diingatkan secara instan oleh Allah, bahwa amanah saya sangat berat. Saya dibiarkan memilih untuk hidup, dengan alasan ingin merawat anak saya. Dan Allah mengabulkan. Maka, perjalanan selanjutnya adalah perjuangan saya menunaikan amanah itu.

No comments

Please leave your comment so I know you were here. Thank you for reading.