Petualangan Itu Bernama Motherhood



“Mi, I think you are the craziest mum I know.”
“I wonder, if other mum ever done that kind of thing like what you did, Mi. It’s silly.”

Semacam itulah komentar anak-anak saya, yang sekarang usianya 15 dan 11 tahun. Mereka sering geleng-geleng kepala lihat kelakuan saya. Dorong-dorongan, tickle fight, jojogetan nggak jelas, nyanyi dengan suara asal. Kadang mereka bilang, “If your friend knew you were this silly, what would they say?”

Hikayat Mimpi




 “Bayinya laki-laki, sehat, Bu. Alhamdulillah, nangisnya juga kenceng.” Dokter kandungan yang membantu persalinan, sudah menyerahkan bayi saya ke perawat untuk dibersihkan, usai Inisiasi Menyusui Dini (IMD). “Lanjut ke perjuangan kedua ya Bu, kita ngeluarin plasentanya.”

Entahlah, semua perkataan dokter terdengar samar di telinga saya. Perasaan yang campur aduk antara bahagia, rasa sakit yang masih terasa dan kelelahan luar biasa. Sehingga membuat saya pasrah. Do anything you need to do, Doc.
Perut saya agak ditekan oleh perawat. Sakit. Lalu dokter berkata lagi, “Plasentanya rapuh, ibu harus saya currete.”