Pesan di Waktu Malam


Suatu malam, ketika saya baru saja pulang dari klinik, sebuah SMS masuk. Jangan membayangkan kondisi ponsel yang penuh warna ya, saat itu layar hp masih monokrom dengan ring tone juga masih monofonik. 

Perasaan saya biasa aja ketika melihat nama pengirimnya. Dia adalah ketua Barikade, barisan relawan tempat saya beraktivitas. Sudah biasa dia mengirimkan saya SMS, yang isinya seputar agenda rapat atau konsolidasi kegiatan.

Tapi begitu membuka isinya, saya kaget. Lho, kok gini? Ini tidak salah alamat?

Asli, saya tidak pernah menduga dikirimi sms seperti itu. Sesaat saya memutar otak, bukankah harusnya ini dikirim ke A (seorang teman satu organisasi). Bukankah si A adalah target SMS ini seharusnya? Saya tidak berani bertanya demikian kepada pengirim SMS, karena rasanya tidak sopan. Tapi saya juga tidak sanggup merespon banyak. Hanya bisa menjawab, “Saya pikirkan dulu ya.”

Gudang air mata saya meleleh. Beberapa bulan ke belakang, saya memang banyak berdoa kepada Allah minta ditunjukkan. Karena ada beberapa tanda yang saya tangkap, dan mulai mengganggu pikiran. Saya ingin Allah yang memilihkan.

Dan semudah itu saya merasa, “Ini jawaban Allah.”

SMS singkat dari seorang Ikhwan yang “de facto” adalah atasan saya di organisasi pasti akan bikin kebat-kebit banyak akhwat di Barikade. Tidak sedikit yang menyatakan suka pada ikhwan ini. Beberapa akhwat bahkan ada yang curhat langsung pada saya, berharap dikhitbah (dilamar) ikhwan ini. Saya baca ulang smsnya…”kok saya ya?”.

Buat saya, dia bukan siapa-siapa. Belum menempati ruang spesial di hati saya. Saya hormat pada dia, karena dia pantas mendapatkannya. Orangnya baik, perhatian pada anggota, cerdas, shalih, visioner dan simpel.

Satu hal penting yang harus saya lakukan adalah bicara pada orangtua.

Sebelumnya, saya pernah melakukan ta’aruf singkat dengan seorang ikhwan, yang rasanya tidak perlu dijelaskan secara detil di sini. Urusan izin orangtua mempengaruhi akhir ta’aruf tersebut. Mereka kurang setuju karena beberapa alasan terkait si ikhwan.

Akhirnya, ta’aruf itu tidak berlanjut, karena saya juga tidak menemukan kecenderungan hati untuk menerima beliau.

Bagaimana dengan yang ini? Apakah ajakan ta’aruf secara langsung begini baik untuk dilanjutkan? Tunggu catatan saya berikutnya.

No comments

Please leave your comment so I know you were here. Thank you for reading.