Ta'aruf Yang Bagaimana?


Jujur, saya belum banyak paham proses ta'aruf yang sesuai syar'i itu bagaimana. Selama ini, dari buku-buku yang saya baca, rasanya kok belum nempel ya. Dan mungkin juga saya udah keburu Ge-eR ada yang ngajak ta'aruf, jadi agak kurang aware dengan teknisnya. Juga kurang peduli dengan urusan "Gue demen atau nggak sih sama ni orang".


Asli menjalankan ta'aruf karena rasa penasaran, dan nothing to lose gitu. Jadi di akhirnya, saya seperti membiarkan semuanya bergerak seperti air. Kalau di akhir akhirnya saya suka sama ikhwan ini, hayu aja kalau mau berakhir nikah. Tapi kalau nggak, saya akan menolak.

Karena kekurangan ilmu tentang bagaimana seharusnya proses ini berjalan, saya jadi membiarkan si ikhwan leading the way semuanya. Saya ngikut aja. Apalagi pas tahu usianya jauh di atas saya, saya menganggap dia lebih paham tentang agama daripada saya yang baru mulai belajar ini.

Waktu berjalan, kami banyak berhubungan lewat ponsel. Oya, saat itu adalah awal-awal ponsel bisa mulai ada fitur smsnya. Huaaa kebayang ya, jaman kuda. Kalau yang baca tulisan saya ini anak-anak milenial, pasti wondering, saya hidup di tahun berapakah.

Fyi, saya menikah tahun 2003 (apakah dengan ikhwan yang sedang ditaarufi ini? I'll let you know later). Proses ini berlangsung kira-kira 2-3 tahun sebelum saya nikah.

Begitu tahu ponsel mulai bisa untuk sms-an, kami banyak sekali mengobrol via sms, yang saat itu biaya kirimnya 350 rupiah. Lumayan mahaaaal kalau dibandingkan dengan harga data masa kini. Kebayang, sekarang kita bisa mengirim ribuan pesan dalam sehari. Kalau dulu, kirim 100 pesan saja kita harus menyiapkan pulsa 35.000 rupiah. Which is, sangat mahal di zamannya (catatan, saya bukan anak Jaxel).

Dia bangunin saya qiyamul lail dan subuh, kirim-kirim pesan motivasi dan tanya-tanya kabar sehari-hari. Oya, hubungan taaruf ini memang jarak jauh, karena saya tinggal di Bandung sementara si ikhwan bekerja di Kalimantan.

Nah, ini yang kemudian menjadi bahan evaluasi saya di kemudian hari. Apakah cara ta'aruf seperti ini benar? Apakah dengan proses ini kita bisa terjaga dari fitnah dan virus merah jambu? Apakah kita terjaga dari kemurnian niat menikah karena Allah? Back then, saya masih polos banget. Belum paham rambu-rambunya.

Secara fisik, kami memang jarang ketemu. Sepanjang proses ini, mungkin hanya 2-3 kali ketemunya. Tapi obrolan lewat sms bisa setiap hari, 3x sehari seperti minum obat.

Bagaimana kelanjutannya? Apakah saya jatuh hati kepada ikhwan ini? Ada drama apa saja di dalam proses perkenalan singkat ini? Baca kelanjutannya di postingan berikut ya.

No comments

Please leave your comment so I know you were here. Thank you for reading.