Perjalanan Berjuang



Saya bersyukur dipertemukan dengan komunitas ini. Sekumpulan anak muda, mayoritasnya mahasiswa, yang mempunyai ghirah tinggi untuk melakukan kebaikan. Kerennya, Yayasan Percikan Iman mewadahinya dengan luar biasa. Di tempat ini, saya berproses dan mengalami peningkatan yang cukup signifikan.

Bukan hanya dibimbing oleh Ustadz dan Ustadzah keren, tapi disini kami belajar berorganisasi tanpa pamrih. Tujuan kami bergerak semata-mata untuk menolong dan mendidik diri sendiri. Jadi kalaupun di awal ada yang punya niat belum bersih, mengalami proses pembersihan yang luar biasa. Kalau tidak mampu berubah, makan akan teseleksi dengan sendirinya.

Di Barikade ini saya menemukan cinta. Cinta pada alam, cinta untuk terus berjuang, cinta pada Al Qur’an dan cinta pada proses belajar. Saya bahkan tidak pernah menyangka akan menemukan sebentuk cinta yang lain.

Banyak cinta yang hadir selama 3 tahun saya berinteraksi di Barikade. Perjalanannya tidak mudah, karena saya harus membagi waktu antara aktivitas organisasi dan stase ko-ass yang sedang sibuk-sibuknya. Seringkali, usai jaga malam di Rumah Sakit, saya ditunggu untuk rapat kegiatan dan berangkat ke daerah bencana keesokan harinya.

Perjalanannya tidak mudah, karena saya juga jatuh bangun mengelola perjalanan ruhiyah, datang dan perginya cinta dan ujian keikhlasan.

Pengalaman menakjubkan ini sungguh ingin saya tularkan pada anak-anak saya dan generasi-generasi di bawah saya. Bergabunglah bersama jamaah. Bergeraklah membangun peradaban sejak dini. Manfaatkan masa mudamu dengan sebaik-baiknya, niscaya Allah memudahkan langkahmu ke depannya.

Buku-buku tentang pernikahan tak sadar saya lupakan. Saya lebih semangat mengaji fiqh ibadah, tafsir Al Qur’an, belajar tahsin dan tahfizh dan mengupas fiqh da’wah. Di antara semua aktivitas yang menyibukkan ini, Allah menakdirkan sesuatu terjadi kemudian. Seorang Ikhwan yang selama ini berinteraksi cukup terbatas dengan saya, berkomunikasi dalam frame organisasi dan melulu bicara tentang koordinasi kegiatan, mengajukan proposal untuk taaruf.

Siapkah saya? Entahlah. Saya galau. Usia saya memang sudah memasuki seperempat abad, meskipun masih kuliah. Tapi saya kaget, karena “Kok dia? Nggak salah dia memilih saya?”.
Di sini, ilmu yang saya pelajari seakan diuji. Sanggupkah kamu menggenapkan setengah dienmu saat ini?

No comments

Please leave your comment so I know you were here. Thank you for reading.