Belajar Ta'aruf




Gue mau nikah.

Kalimat ini saya ucapkan dalam hati aja. Soalnya saya nggak yakin orang tua juga bakal mengizinkan. Saat itu saya masih kuliah, ko-ass tepatnya. Usia sudah mulai mendekati seperempat abad, memang di atas rata-rata usia mahasiswa yang biasa sudah lulus di umur 22-23 tahun. 


Ya memang, saya lulus sarjana di usia segitu. Tapi trus lanjut ko-ass yang belum tampak kejelasannya kapan selesai. Apa yang membuat saya kepingin nikah? Hanya satu! Yaitu gara-gara membaca buku-buku karya Mohammad Fauzil Adhim tentang pernikahan. Ada serial buku beliau, beberapa diantaranya Kupinang Engkau Dengan Hamdalah dan Agar Cinta Bersemi Indah.

Untuk seorang pemudi yang sedang ghirah-ghirahnya belajar Islam, senang membaca buku apa saja dan mulai terintimidasi oleh undangan nikah beberapa teman, sebuah wacana menggenapkan separuh dien itu bagaikan angin surga. Siapa yang nggak mau sholat dua rokaatnya sebesar pahala sholat sepanjang malam jika dikerjakan bersama pasangan. Aduhai indahnya.

Bacaan-bacaan yang membuat saya “berasap” ini nggak didukung dengan hadirnya jodoh. Hahaha, nelangsa ya. Alhamdulillah-nya saya nggak ngoyo juga. Karena di lingkungan kampus, teman yang sudah menikah masih dalam hitungan jari. Saya masih sangat fokus ke urusan kampus juga.

Hingga pada suatu hari, seorang sahabat menghampiri saya dan bilang, “Ne, katanya elu siap nikah? Ada Ikhwan cari calon istri tuh. Mau?”

Entah apa ya yang ada di pikiran saya? Yang pasti, segala idealisme saya tentang menikah secara syar’i begitu menggaung di pikiran. Saya penasaran, bagaimana sebuah perjalanan ta’aruf itu dilakukan. Meski takut, saya menerima tantangan itu.

Sambil lalu.

Buset, mau nikah tapi memutuskannya sambil lalu. Tanpa pake istikharah pula. Ngaco, kan?
Teman saya lalu bilang, “Tuh, Ne. Orangnya ada di ruang tunggu.”

Yang dimaksud dengan ruang tunggu ini adalah ruang tunggu pasien di Rumah Sakit Gigi dan Mulut tempat saya menjalankan praktik ko-assistensi dokter gigi. Saya menduga, ikhwan ini pasti salah satu pasien teman saya.

Gak ada deg-degannya sama sekali, saya intip lah ikhwan itu. Yaah not bad, not so good juga. Bukan tipe saya pastinya. Tapi karena saat itu saya sedang sok mau jadi muslimah yang taaruf syar’i, jadi saya gak pedulikan urusan fisik. Karena katanya, nikahilah seseorang karena empat hal, ketampanan/kecantikannya, kekayaannya, keturunannya dan agamanya. Jika kita memilih karena agamanya, maka itulah yang terbaik.

Padahal saat itu saya belum tahu juga agamanya bagaimana. Tapi sejauh pendangan saya, ketika seseorang mengajak taaruf, artinya dia sudah paham tentang pernikahan syar’i, ya kan. Nggak mau pacaran seperti orang kebanyakan. 

Lagian ini baru taaruf, belum tentu jadi.


Yeaah, singkatnya saya dikenalin lah dengan sang ikhwan. Sebut saja namanya Mawar…eh Kenikir, qiqiqi. Nama apa pula ini.

Bagaimana prosesnya kemudian? Ikuti postingan saya berikutnya ya.

No comments

Please leave your comment so I know you were here. Thank you for reading.